Senin, 08 November 2010

ijaroh

IJARAH
BAB II
Pembahasan
A. Pengertian
Menurut etimologi ijarah adalah nama untuk ujroh yang mengikuti wazan fa'alah adalah baiul manfa'ati (menjual manfaat). Adapun menurut termonologi syara' banyak sekali pengertian ijarah sesuai dengan pendapat para ulama fikh. Pengertian-pengertian itu maknanya mendekati kesamaan hanya berbeda dalam penggunaan kata. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan dikemukakan beberapa definisi ijarah menurt beberapa pendapat ulama fikih.
Ulama Hanafiah.
هِيَ بَيْعُ مَنْفَعَةٍ مَعْلُومَةٍ بِأَجْرٍ مَعْلُومٍ
Artinya: Menjual kemanfaatan tertentu dengan upah yang ditentukan pula.
Ulama Maliki.
عَقْدٌ لاَزِمٌ عَلَى الْمَنَافِعِ المُبَاحَةِ
Artinya: Akad tetap atas manfaat yang diperbolehkan.
Ulama Syafi'i.
عقد على منفعة مقصودة معلومة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم
Artinya: Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan menerima pengganti serta kebolehan dengan pengganti tertentu.
Ulama Hanabilah.
عوض معلوم ، في منفعة معلومة ، من عين معينة أو موصوفة في الذمة ، أو في عمل معلوم
Artinya: Pengganti tertentu, dalam manfaat tertentu, dari barang yang ditentukan atau disifati dalam tanggungan atau dalam perkerjaan tertentu.
Selain definisi ulama empat madzhab di atas ada pula yang mendefinisikan ijarah sebagai akad pemindahan hak guna atau barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri.
Ada yang menerjemahkan, ijarah sebagai jual-beli jasa (upah-megupah), yakni mengambil manfaat tenaga manusia. Ada pula yang menerjemahkan sebgai sewa-menyewa yakni mengambil manfaat dari barang.
Dari beberapa definisi di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa ijarah adalah suatu akad yang berupa pemindahan manfaat barang atau jasa dengan penggganti berupa upah yang telah ditentukan tanpa adanya pemindahan kepemilikan.
B. Dasar Hukum
• Al-Quran
1. Surat az-Zukhruf ayat 32:
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."
.2. Surat al-Baqoroh ayat 233
"Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan."
• Hadist
1. Riwayat Bukhori
احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ
"Rasulullah berbekam kemudian memberikan upah kepada tukang bekam."
2. Riwayat Ibnu majah
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
"Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering."
3. Riwayat Imam Ahmad
كُنَّا نُكْرِي الْأَرْضَ عَلَى أَنَّ لَكَ مَا أَخْرَجَتْ هَذِهِ وَلِي مَا أَخْرَجَتْ هَذِهِ فَنُهِينَا أَنْ نُكْرِيَهَا بِمَا أَخْرَجَتْ وَلَمْ نُنْهَ أَنْ نُكْرِيَ الْأَرْضَ بِالْوَرِقِ
"Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Lalu rasulullah melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan uang emas atau perak."
• Ijma'
Sesuai dengan riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Nasai bahwa umat islam pada masa sahabat telah berijma' bahwa ijarah dibolehkan sebab bermanfaat bagi manusia.
C. Rukun ijarah
Menurut jumhur ulama, rukun ijarah ada empat.
1. Mu’jir dan Musta’jir.
Yaitu orang yang melakukan akad ijarah baik sewa-menyewa atau upah-mengupah. Mu’jir adalah orang yang memberikan upah dan yang menyewakan, musta’jir adalah orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan orang menyewa sesuatu. Syarat bagi kedua pelaku transaksi ijarah adalah sama dengan pelaku jual beli yakni dalam kedewasaan (baligh, berakal, cakap melakukan tasharruf) dan tidak adanya unsur ikroh (keduanya harus ridho).
Hal ini berdasarkan pada surat an-Nisa ayat 29 :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh diri, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." Bagi orang berakad ijarah juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan.
2. Shighat akad
Syarat ijab qabul antara mu’jir dan musta’jir sama dengan ijab qabul yang dilakukan dalam jual beli. Ijab qabul sewa-menyewa misalnya: “aku sewakan mobil ini kepadamu setiap hari Rp 5000,00,” maka musta’jir menjawab “aku terima sewa mobbil tersebut dengan harga demikian setiap hari.” Ijab qabul upah-mengupah misalnya seseorang berkata, “aku serahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah setiap hari Rp 5000,00,” kemudian musta’jir mejawab “aku kerjakan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang kau ucapkan.”
3. Ujrah (upah)
Para ulama telah menetapkan syarat ujroh sebagai berikut:
Berupa harta yang tetap dan dapat diketahui. Jika ujroh tersebut berupa tanggungan maka ujroh harus disebutkan ketika akad dan kedua belah pihak mengetahui jenis ukuran dan sifat ujroh tersebut.
Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah seperti upah sewa-menyewa rumah untuk ditempati dengan menempati rumah tersebut.
Ma'qud alaihi (barang yang menjadi Obyek)
Barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah, disyaratkan pada barang yang disewakan dengan beberapa syarat berikut ini.
Hendaknya barang yang menjadi objek akad sewa-menyewa dan upah mengupah dapat dimanfaatkan kegunaannya.
Hendaknya benda yang menjadi objek sewa-menyewa dan upah mengupah dapat diserahkan kepada penyewa dan pekerja berikut kegunaannya (khusus dalam sewa-menyewa).
Manfaat dari benda yang disewa adalah perkara yang mubah (boleh) menurut syara’ bukan hal yang dilarang (diharamkan).
Benda yang disewakan disyaratkan kekal ‘ain (zat) nya hingga waktu yang ditentukan menurut perjanjian dalam akad.
D. Macam-Macam Ijarah
Jika ditinjau dari ma'qud alaih-nya, maka ijarah akan terinci dalam dua pembahasan.
1. Sewa-menyewa
Sewa menyewa adalah praktek ijarah yang berkutat pada pemindahan manfaat terhadap barang. Barang yang boleh disewakan adalah barang-barang mubah seperti sawah, tanah, rumah dan lainnya.
Barang yang berada ditangan penyewa dibolehkan untuk dimanfaatkan sesuai kemauannya sendiri, bahkan boleh disewakan lagi kepada orang lain.
Orang yang menyewa harus jujur, dapat dipercaya dan memakai barang sewaaannya dengan hati-hati. Kalau dengan cara demikian ada kerusakan, maka ia tidak berkewajiban menanggung. Kalau tidak ada kejujuran, kerusakan-kerusakan yang disengaja menjadi tanggungannya. Seperti orang menyewa binatang. Ia mengerjakan dengan baik, tiba-tiba mati, ia tidak menanggung. Tetapi jika ia menggunakannya tanpa kebaikan, maka jika mati akan menjadi tanggungannya. Dengan demikian tidak akan ada tipu muslihat.
Upah mengupah
Upah mengupah disebut juga dengan jual beli jasa. Misalnya ongkos kendaraan umum, upah proyek pembangunan, dan lain-lain.
Pada dasanya pembayaran upah harus diberikan seketika juga, sebagaimana jual beli yang pembayarannya waktu itu juga. Tetapi sewaktu perjanjian boleh diadakan dengan mendahulukan upah atau mengakhirkan. Jadi pembayarannya sesuai dengan perjanjiannya. Tetapi kalau ada perjanjian, harus segera diberikan manakala pekerjaan sudah selesai. Nabi bersabda: "Upah harus diberikan sebelum peluhnya kering."
Kematian orang yang mengupah atau diupah tidak membatalkan akad pengupahan. Artinya, kalau orang yang mengupah mati, padahal permintaannya sudah dikerjakan oleh orang yang diupah, keluarganya wajib memberikan upahnya. Tetapi kalau orang yang diupahnya mati sebelum menerima upahnya, ahli warisnya menerima upahnya. Tetapi kalau mati sebelum menyelesaikan pekerjaan, urusannya di tangan Allah.
E. Ijarah Dalam Perbankan
Dalam perkembangannya terdapat istilah Ijarah Al Muntahia Bittamlik (sewa-beli) adalah sejenis perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. Sifat pemindahan kepemilikan ini pula yang membadakan dengan ijarah biasa.
Sewa beli memiliki banyak bentuk tergantung apa yang disepakati kedua pihak yang berkontrak. Misalnya: ijarah dan janji menjual; nilai sewa yang mereka tentukan dalam ijarah; harga barang dalam transaksi jual, dan kapan kepemilikan dipindahkan.
Dalam dunia perbankan, bank-bank islam mengoperasikan produk ijarah, dapat melakukan leasing (jasa penyewaan), baik dalam bentuk operating lease maupun finansial lease. Namun, pada umumnya bank-bank tersebut lebih banyak menggunakan al ijarah al muntahia bittamlik lantaran lebih sederhana dari sisi pembukuan. Selain itu, bank- pun tidak direpotkan untuk mengurus pemeliharaan aset, baik pada saat leasing ataupun sesudahnya.
Manfaat dari transaksi ijarah untuk bank adalah keuntungan sewa dan kembalinya uang pokok. Adapun resiko yang mungkin terjadi dalam ijarah adalah sebagai berikut:
1. default; nasabah tidak membayar dengan sengaja.
2. rusak; aset ijarah rusak sehingga menyebabkan biaya pemeliharaan bertambah, terutama bila disebutkan dalam kontrak bahwa pemeliharaan harus dilakukan oleh bank.
3. berhenti; nasabah berhenti di tengah kontrak dan tidak mau membeli aset tersebut. Akibatnya, bank harus menghitung kembali keuntungan dan mengembalikan sebagian keada nasabah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Para ulama berbeda dalam mendefenisikan makna ijarah. Namun perbedaan itu hanya terletak pada penggunaan kata. Makna ijarah menurut keempat imam madzhab jika penulis simpulkan adalah suatu akad yang berupa pemindahan manfaat barang atau jasa dengan penggganti berupa upah yang telah ditentukan tanpa adanya pemindahan kepemilikan.
Seperti halnya jual beli, ijarah juga memiliki rukun yang meliputi aqid (orang yang melakukan akad), shigot akad, upah, dan ma'qud alaih (obyek baik berupa barang atau jasa).
Seiring dengan perkembangan proses muamalah dalam dunia perbankan, ijarah pun mengalami perkembangan yakni dengan adanya Ijarah Al Muntahia Bittamlik (sewa-beli) yang berarti perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa.
Jika suatu saat terdapat inovasi muamalah dimungkinkan akan terjadi perkembangan praktek ijarah yang membutuhkan ijtihad baru. Muamalah merupakan bidang yang berpeluang untuk melakukan ijtihad hukum.
B. Kalam Akhir
Setelah menguak ijarah dan mengkemasnya dalam bentuk makalah ringkas, penulis menemukan adanya hikmah disyariatkan ijarah yang cukup besar, karena di dalamnya mengandung manfaat bagi proses kehidupan manusia. Perbuatan yang bisa dikerjakan oleh satu orang belum tentu bisa dikerjakan oleh dua orang atu tiga orang.
Syarat yang disebutkan jenis dan sifat barang dalam akad ijarah dimaksudkan untuk menolak terjadinya perselisihan dan pertengkaran. Seperti halnya tidak boleh menyewa barang dengan manfaat yang tidak jelas yang dinilai secara kira-kira, sebab dikhawatirkan barang tersebut tidak mempunyai faidah.
Karya ringkas pemakalah hanya bersumber dari sedikit di antara ribuan kitab klasik dan kontemporer yang membahas ijarah, maka dengan penuh kesadaran kami merasa makalah ini ibarat secarik kertas kosong di antara ribuan buku yang berisi lautan pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Baghdadi , Abdurrahman Syihabuddin, Irsyadus Salik, Maktabah Syamilah.
Al-Jurjawi, Syaikh Ali Ahmad, falsafah dan hikmah hukum islam, 1992, Semarang: Asy-Syifa.
Antonio, Muhammad Syafi'i, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, 1999,Jakarta: Tazkia Institute
Azzarkasyi, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah, Syarhul Zarkasyi ala Mukhtashor al Khurki, Maktabah Syamilah.
Azzila'i, Fakhruddin Utsman bin Ali, Tabyinul Haqoiq Syarh Kanzil Daqoiq, Maktabah Syamilah.
Nawawi , Imam, Nihayatuz Zain, Maktabah Syamilah.
Suhendi, Hendi, Fiqih Muamalah, 2002, Jakarta: Raja Grafindo persada.
Syafei, Rachmat, Fiqh Muamalah, 2001, Bandung: Pustaka Setia.
Fakhruddin Utsman bin Ali Az Zila'i, Tabyinul Haqoiq Syarh Kanzil Daqoiq, Maktabah Syamilah, hal 337.
Abdurrahman Syihabuddin al-Baghdadi, Irsyadus Salik, Maktabah Syamilah, hal. 151
Imam Nawawi, Nihayatuz Zain, Maktabah Syamilah, hal. 257
Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah az Zarkasyi, Syarhul Zarkasyi ala Mukhtashor al Khurki, Maktabah Syamilah, Hal. 177
Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, (Jakarta: Tazkia Institute), 1999 hal. 167
Prof. DR. H. Rachmat Syafei, MA, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia), 2001, hal. 124
ibid., hal. 125
Imam Nawawi, Op.Cit.,
Dr.H.Hendi Suhendi, M.Si, Fiqih Muamalah (,Jakarta: Raja Grafindo persada), 2002, hal. 118
Imam Nawawi, Op.Cit., hal 258
Prof. DR. H. Rachmat Syafei, Op.Cit., hal. 129
Dr.H.Hendi Suhendi, Op.Cit.,
prof. DR. H Rahmat Syafei, Op cit., hal. 132-133
Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, (Jakarta: Tazkia Institute), 1999 hal. 168
ibid.,
Syaikh Ali Ahmad al-Jurjawi, falsafah dan hikmah hukum islam, 1992 (Semarang: Asy-Syifa), hal. 397

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar