Kamis, 25 November 2010

makalah perubahan dan pengembangan organisasi

PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI

BAB I
PENDAHULUAN


Organisasi sebagai suatu wadah yang menampung individu-individu untuk mewujudkan satu visi dan misi yang disepakati bersama. Organisasi senatiasa berjalan dengan tiga opsi, yaitu opsi maju, mundur, dan stagnan. Ketiga opsi tersebut secara teoritis tidak terlalu jelimet. Namun, praktiknya yang kerapkali menimbulkan sebuah usaha decode prediction di luar perkiraan.
Secara kosmologis, seluruh komponen kehidupan senantiasa meyakini perubahan. Termasuk pada usaha, bisnis atau sebuah organisasi. Mengutip pernyataan Jack Wick dalam artikelnya yang berjudul “A Master of Medical Change” berbunyi :“Orang selalu bertanya, apakah perubahan organisasi telah usai? dapatkah kita berhenti sekarang? Anda harus mengatakan ‘tidak, perubahan baru saja dimulai’ mereka harus mulai menyadari bahwa perubahan tidak pernah selesai. Para pemimpin harus menciptakan suatu atmosfir yang memungkinkan anak buahnya memahami bahwa peru bahan merupakan proses yang berkelanjutan.Rumusan masalah dari penulisan makalah ini menyatakan tentang pentingnya perubahan organisasi apabila itu dipandang dan dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan produktivitas organisasasi. Namun, penulis juga merasa penting untuk juga memaparkan beberapa hal yang perlu dilakukan dan dihidari baik itu dalam penulisan secara eksplisit maupun implisit.Secara teori, memang setiap perubahan selalu mengarah pada dua kemingkinan utama, yaitu berubah semakin baik dan berubah menjadi jelek. Kalau dipandang dari sudut pandang filosofi organisasi, perubahan tidak bisa dihidari, walaupun stigma gagal atau sukses selalalu dianggap sebagai kemestian yang akan datang. Dalam berorganisasi, eksisitensi seperti roda yang kadang ada dibawah, dan kadang ada diatas. Otomatis, semakin besar suatu organisasi, semakin kompleks pula struktur dan sistem kerjanya dan semakin berpeluang menghasilkan produktifitas melalui prigresifitas yang mampuni.Namun, keberadaan sesuatu yang kompleks membutuhkan kinerja dan loyalitas yang tinggi pula. Mengutip pepatah perancis yang berbunyi “corruptio optimi de pessima” yaitu kesalahan dari sesuatu yang terbaik adalah bencana.
Oleh karena itu, tujuan dari penyulisan makalah ini adalah memperkenalkan apakah itu perubahan organisasi dan bagaimana mengolahnya menuju progresivitas yang berkelanjutan.
Dewasa ini perubahan tata nilai kehidupan berjalan begitu cepat karena pengaruh globalisasi. Masyarakat menghadapi masalah yang semakin beragam sebagai akibat modernisasi dan perkembangan dunia. Masalah hubungan sosial dan tuntutan lingkungan seiring harapan untuk meningkatkan pencapaian diri ketidak sanggupan pribadi untuk memenuhi tuntutan tersebut bisa menimbulkan stres dalam diri seseorang. Beberapa faktor penyebab umum dari stres antara lain : masalah pekerjaan, ujian, problem rumah tangga, sakit ,kurang tidur ,dan banyak lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa stres memberi kontribusi 50 sampai 70 persen terhadap timbulnya sebagian besar penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, kanker, penyakit kulit, infeksi, penyakit metabolik dan hormon, serta lain sebagainya. Ketika seseorang mengalami stres yang berat.Orang hidup tidak mungkin terhindar dari stres untuk itu kita harus dapat menyikapi dan mengelola stres dengan baik sehingga kualitas hidup kita menjadi lebih baik.



BAB II
PEMBAHASAN

PERUBAHAN ORGANISASI


Perubahan atau berubah secara etimologis dapat bermakna sebagai usaha atau perbuatan untuk membuat sesuatu berbeda dari sebelumnya. Dalam istilah perubahan organisasi, dikenal istilah senada yaitu change interventation; sebuah rancangan aksi atau tindakan untuk membuat inovasi merubah sesuatu menjadi berbeda. Dan change again; individu atau kelompok yang bertindak sebagai katalis atau suatu sekte yang bertanggung jawab untuk melakukan manajemen dan menentukan prosedur kerja kedepan. Perubahan organisasi akan mengarah kepada opsi mundur, apabila system perencanaan yang ada didalamnya baik satu ataupun banyak komponen yang menyusun mengalami disfungsi. Konsekuensinya akan tampak pada meredupnya kegiatan tanpa ada alasan yang jelas dan timbulnya kesenjangan di dalam organisasi . untuk hal yang paling tampak adalah pada administrasi yang tumpang tindih dan tidak sesuai dengan AD/ART organisasi. Perubahan organisasi akan mengarah pada opsi stagnan, apabila terjadi gangguan sistgem organisasi yang tidak ditangani secara serius oleh kolektif. Sebenarnya banyak factor yang menyebabkan stagnansi. Namun yang paling gencar terjadi ada dua yaitu, ketidak sesuaian itu sendiri dan munculnya satu kejadian atau satu system yang tidak diduga sebelumnya. Seperti sekelompok pengelola perusahaan yang kaget terhadap inplasi saham yang dialami oleh perusahaannya masing – masing.
Perubahan organisasi akan mengarah pada opsi maju apabila ada kesinambungan yang harmonis antara system dan pelaksananya. Suasana yang berlangsung pada sisterm tersebut tertata dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur atau membuat inovasi yang koorperatif satu sama lain. Contohnya, apabila sebuah perusahaan mengalami kenaikan saham pada suatu periode hal itu tidak lepas dari rancangan POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling) yang mapan. Apabila perencanaan sebuah organisasi mapan, namun kontrolingnya lemah, maka kenaikan saham akan terjadi kalau ada keberuntungan saja.


MENGELOLA PERUBAHAN ORGANISASI

Perkembangan Organisasi


Istilah perkembangan organisasi (organizational development) bisa digunakan untuk sebuah perubahan aktivitas yang sudah dirancang. Istilah ini merupakan produk dari pengelolaan organisasi secara umum. Perkembangan organisasi juga didiskripsikan sebagai jarring – jaringan komplek dari beberapa event (kegiatan, proyek dan sebagainya) yang meningkatkan kemampuan dari anggota – anggota organisasi untuk mengelola budaya organisasi interen mereka, supaya mereka kreatif dalam memecahkan masalah, dan membantu organisasi mereka dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan luar. Artinya, perkembangan organisasi tidak dapat disaklekan difinisinya, disatu konsepkan, tetapi lebih pada istilalah yang pas untuk mengarahkan suatu bentuk aktivitas dalam mengelola perubahan dalam organisasi.
Untuk mewujudkan perkembangan organisasi, dibutuhkan pengelolaan yang sistematik. Maka perlu dilakukan introduksi terhadap konsepsi – konsepsi yang berkaitan dengan perkembangan organisasi sebagai buah pengelolaan organisasi menuju progesivitas berkelanjutan.



Hambatan Dalam Perubahan


Does an employee resist an up word change in pay rate or vacation allowance? Does a home maker resist the replacement of a cranky old dishwasher for a new one? Does a manager resit an imposed schedule change that requires him to represent his division at an important reception for the new company president rather than finishing his quarterly budget? All these changes that people concerned. What distinguishes these changes from the changes that people resist strongly is the fact that their nature and effect are relatively well-known and are enthusiastically desired. The degree of people's resistance to changes depends of the kind of of change involve and how well it's understood. What people resist is not change but loss, or the possibility of loss.
ARTINYA;
Apakah satu karyawan melawan satu atas perubahan kata di pinjaman kecepatan-angka membayar atau liburan? Apakah satu pembuat situs awal melawan penggantian dari satu tua sakitan dishwasher untuk yang baru? Apakah satu manajer duduki ulang satu jadwal dipaksakan mengubah yang memerlukan dia untuk mewakili divisinya pada satu resepsi penting untuk perusahaan baru presiden agak dibandingkan selesai anggaran keuangan triwulanannya? Semua ini perubahan yang people mengaitkan. Apa mencirikan perubahan ini dari perubahan orang-orang itu lapisan pelindung betul-betul adalah fakta yang sifat alami dan akibat mereka secara relatif terkenal dan dengan antusias diinginkan. Derajat dari daya tahannya orang-orang untuk mengubah menyesuaikan dari semacam perubahan melibatkan dan seberapa baik ini dipahami. Apa lapisan pelindung orang-orang bukan berganti kecuali rugi, atau kemungkinan dari rugi .

Pernyataan di atas dikeluarkan oleh W.W Bhurkee dalam bukunya Organization Development: Principle and Practice organisasi pada dasarnya mengalami hambatan dalam perubahan apabila :

Kurang Pengalaman Acapkali dalam melakukan pekerjaan karyawan yang pertama kali memulai kerja mengalami gugup pada saat awal – awal. Dengan alasan tersebut, banyak lapanngan pekerjaan yang mensyaratkan pelamarnya berpengalaman. Secara teori, orang yang berpengalaman akan lebih mudah dan lancer dalam pekerjaannya. Namun kekurang pengalaman itu justru menjadi hambatan untuk menciptakan organizational development. Sebab, dalam proses menuju perkembangan biasanya akan ditemukan hal – hal yang baru dan sering mengecoh atau bisa – bisa mengocek kantong sia – sia. Terpaku Pada Kesalahan
Artinya, ketika perusahaan melakukan evaluasi, biasanya muncul statmen -statmen yang menyatakan kekurangan – kekurangan yang terjadi. Apa bila kita hanya terpaku pada kesalahan – kesalahan tersebut, hal itu akan menghambat untuk melakkukan planning progress untuk mengembangkan dan membangun organisasi.

Merubah Proses
Ketika habatan daspat dilalui, bukan berarti hambatan akan hilang secara keseluruhan. Yang bisa kita lakukan adalah mereduksi hambatan itu sendiri untuk merubah dan dapat dipahami dengan mempertimbangkan kompleksitas yang ada dalam merubah proses. K.Lewin dalam bukunya yang berjudul Field Theory in Social Science menyatakan bahwa merubah proses menuju sukses adalah merubah usaha untuk menangani tekanan dari ham batan individual dan konformasi kelompok yang dikenal dengan istilah unfreezing dan menstabilkan change intervention dengan menyeimbangkan manajemen dan mengelola kekuatan yang dikenal dengan istilah refreezing. Hal itu berarti bahwa unfreezing dilakukan untuk menanggulangi status quo, dan melakukan gerakan ke wilayah ide baru dan refreezing perubahan yang baru dan menjadikannya permanent. Dalam unfreezing, satus quo dikenal dengan tiga metode alternatif, yaitu driving force (mendorong dan menguatkan daya secara langsung) dan restraining force (mendorong dan menguatkan daya secara tidak langsung).


Ada enam cara yang bisa digunakan dalam perubahan proses, yaitu :
a. pendidikan dan komunikasi
b. pertisipasi
c. fasilitas dan dukungan
d. negoisasi
e. manipulasi dan kooptasi
f. coercion (paksaan)

Nilai dan Objektifitas
Dalam perubahan organisasi, secara moril dibutuhkan perspektif yang mengarah kepada objektifitas, diantaranya adalah sebagai berikut :
peka terhadap orang lain
motivasi
keadilan
konfrontasi
patisipasi



Program Berkelanjutan
Dalam operasional organisasi, perlu dilakukan program-program yang dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai suatu hal yang wajib dilakukan di samping kegiatan-kegiatan yang bersifat sementara. Karena pada dasarnya organisasi yang mengalami perubahan menuju progresifitas berkelanjutan siaga dengan banyak probablitas.
Kususnya ketika melakukan unfreezing, movement dan unfreezing dari sebuah rencana perubahan yang dielaborasi ketika diorientasikan pada suatu maksud tertentu. Lebih spesifiknya kepada praktisi dan konsultan. Proses-proses yang bisa dilakukan adalah :
1. Entry (kontrak antara konsultan dan klain atau manajer)
2. Kontrak
3. Diagnosis
4. Umpak balik
5. Rencana perubahan
6. Intervensi
7. Evaluasi
Yang paling penting adalah evaluasi. Ketika melakukan evaluasi kita perlu melakukannya dengan cara yang dapat mengoptimalkan “brainstorming” evaluasi itu sendiri. Berikut beberpa metodenya :

Human Process Techniques

Pelatihan Sensitivitas
Yaitu pelatihan kelompok yang mencari pola pikir perubahan yang tidak terstruktur dalam interaksi kelompok.
Umpan Balik
Yaitu penggunaan kuisioner untuk mengidentifikasi ketidak-selarasan persepsi anggota-anggota kelompok.
Proses Konsultasi
Yaitu konsultan memberi klain sebuah pandangan tentang apa prospek yang bisa terjadi; mengidentifikasi proses yang dibutuhkan “improvisasinya”.
Team Building
Yaitu interaksi serius antara anggota dalam suatu kelompok untuk meningkatkan motivasi kerja dan keterbukaan.
Inter Group Development
Perkembangan organisasi oleh pegawai-pegawainya untuk menimprovisasi interaksi antar grup.

Metode Tradisional
Metode tradisional dalam perubahan organisasi adalah :
Eksposisi dan Propaganda
Artinya, pengetahuan adalah kekuatan utama. Ide ini dipelopori oleh Marx, Keynes, dan Darwin. Jadi, filosof-filosof tersebut lebih cenderung disebut sebagai ilmuan social; mengubah dunia sosial dengan teori dan pemikiran umum
Elite Corps
Tidak jauh beda dengan di atas, bahwa ilmu pengetahuan adalah kekuatan utama. Tetapi, pada eksposisi dan propaganda menyatkan bahwa elitis (yang mempunyai ide) dapat mengkomunikasikan ide-ide mereka kepada pembuat undang-undang. Tetapi, persepsi elite corps bahwa pembuat undang-undang dan orang-orang tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Solusinya adalah menetapkan beberapa intelektual kepada posisi pembuat undang-undang. Metode-metode yang lain antara lain adalah, pandangan psikoanalisis, teori staf, scholarry consultation, sirkulasi ide para elitis, dan lain sebagainya.

PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI (CHANGE AND ORGANIZATION DEVELOPMENT )

A) Perubahan Dan Pengembangan Organisasi
Manajer senatiasa mengantisipasi perubahan-perubahan dalam lingkungan yang akan mensyaratkan penyesuaian-penyesuaian disain organisasi diwaktu yang akan datang. Perubahan-perubahan dalam lingkungan organisasi dapat disebabkan oleh kekuatan internal dan kekuatan eksternal. Berbagai kekuatan eksternal dapat menekan organisasi untuk mengubah tujuan, struktur dan operasinya. Sedangkan perubahan dari faktor seperti tujuan, kebijakan manajer, sikap karyawan, strategi dan teknologi baru juga dapat merubah organisasi.

B) Cara Penanganan Perubahan
Cara menangani perubahan organisasi memerlukan pendekatan. Cara pertama adalah konsep perubahan reaktif dan yang kedua program perubahan yang direncanakan ( Planed Cange )
Pada cara pertama biayanya murah dan sederhana serta ditangani secara cepat, di mana manajer akan memberikan reaksi setelah masalah terjadi. Misalnya bila peraturan pemerintah baru mensyaratkan perusahaan untuk mempunyai perlindungan terhadap kebakaran mungkin manajer membeli alat-alat kebakaran.
Pendekatan yang kedua atau juga disebut proses produktif, thomas dan Bennis mendefinisikan perubahan yang direncanakan sebagai perencanaan dan implementasi inovasi struktural, kebijaksanaan secara sengaja. Pendekatan ini tepat bila keseluruhan atau sebagaian besar satuan organisasi menyiapkan diri untuk menyesuaikan dengan perubahan.

C) Penolakan Terhadap Perubahan
Ada tiga sumber penolakan terhadap perubahan yaitu :
1. Ketidak pastian tentang akibat dan pengaruh perubahan
2. Ketidak pastian untuk melepaskan keuntungan-keuntungan yang ada
3. Pengetahuan akan kelemahan-kelemahan dalam perubahan yang diusulkan.

D) Proses Pengelolaan Perubahan
Proses perubahan harus mencakup dua gagasan dasar untuk mencapai kualifikasi organisasi. Pertama ada retribusi kekuasaan dalam struktur organisasi, kedua retribusi ini dihasilkan dari proses perubahan yang bersifat pengembangan.

E) Pendekatan Perubahan Organisasi
Harold J. Leavitt menyatakan bahwa organisasi dapat diubah melalui pengubahan struktur, teknologi dan atau orang-orangnya.
Pendekatan Struktur
Pengubahan struktur organisasi menyangkut modifikasi dan pengaturan sistem internal, seperti acuan kerja, ukuran dan komposisi kelompok kerja, sistem komunikasi, hubungan-hubungan tanggung jawab atau wewenang. Pendekatan struktural dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari :
Pertama melalui aplikasi prinsip-prinsip perancangan organisai klasik. Pendekatan ini berusaha untuk memperbaiki penciptaan pembagian kerja yang tepat dari tanggung jawab jabatan para anggota organisasi, pengubahan rentang manajemen, deskripsi jabatan dan sebagainya.
Kedua desentralisasi. Hal ini didasarkan pada penciptaan satuan-satuan organisasi yang lebih kecil dan dapat berdiri sendiri dan memutuskan perhatian pada kegiatan yang berorientasi tinggi. Hasilnya perbaikan prestasi kerja. Ketiga modifikasi aliran kerja dalam organisasi. Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa aliran kerja dan pengelompokan keahlian yang tepat akan berakibat kenaikan produktifitas secara langsung dan cenderung memperbaiki semangat dan kepuasan kerja.
Pendekatan Teknologi
Untuk mremperbaiki prestasi F.W. Taylor dan pengikutnya mencoba menganalisa dan memperbaiki interaksi-interaksi pada karyawan dan mesin-mesin untuk meningkatkan efisiensi sehubungan dengan perubahan teknologi adakalanya perubahan yang dilakukan ternyata sering tidak cocok dengan struktur organisasi. Hal ini dapat menciptakan ketidak senangan dan pemutusan hubungan diantara para anggota organisasi akibanya terjadi penurunan produktifitas lebih banyak kecelakaan dan tingkat perputaran karyawan yang tinggi.

Pendekatan Orang
Pendekatan orang bermaksud untuk mengubah secara langsung perilaku karyawan melalui pemusatan pada keterampilan sikap, prsepsi dan pengharapan mereka, sehingga dapat melaksanakan tugas dengan efektif.

F) Konsep Pengemabangan Organisasi
Salah satu teknik pengembangan Organisasi adalah Grid OD yang didasarkan atas kisi-kisi manajerial. R. Blake dan J. Mouton mengidentifikasikan berbagai kombinasi perhatian terhadap produk dan orang. Enam tahap yang perlu diperhatikan dari program Grid OD yaitu :
1. Latihan
2. Pengembangan tim
3. Pengembangan antar kelompok
4. Penetapan tujuan organisasi
5. Pencapaian tujuan
6. Stabilitas.



PENGERTIAN STRES

Stres dapat didefinisikan sebagai semua jenis perubahan yang menyebabkan fisik,emosi atau tekanan psikologis. Stres adalah respons mental seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu sesuatu yang mengganggu kita ( Maramis ).

Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam yang menimbul;kan suatu ketegangan dalam diri seseorang ( Soeharto Heerdjan 1987). Hal ini merupakan kondisi mental yang secara subyektif tidak menyenangkan pada manusia. Stres bersumber dari internal dan eksternal. Stres menyebabkan kemampuan seseorang menghadapi masalah menurun dan menimbulkan berbagai keluhan psikis (mental emosional) maupun fisik. Stres menyebabkan hambatan dalam kehidupan psikososial (pergaulan, pekerjaan, penggunaan waktu senggang)

Vincent Cornelli mengatakan stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntunan kehidupan,yang dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam lingkungan tersebut sedangkan Dadang hawari (2000) stres adalah suatu bentuk ketegangan yang mempengaruhi fungsi alat-alat tubuh.

Stres adalah perasaan yang tercipta ketika kita bereaksi terhadap kejadian tertentu. It's the body's way of rising to a challenge and preparing to meet a tough situation with focus, strength, stamina, and heightened alertness. Ini adalah cara tubuh naik ke sebuah tantangan dan bersiap-siap untuk memenuhi situasi yang sulit dengan fokus, kekuatan, stamina, dan peningkatan kewaspadaan danThe events that provoke stress are called stressors , and they cover a whole range of situations - everything from outright physical danger to making a class presentation or taking a semester's worth of your toughest subject. peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres disebut stresor .

Stres tidak selalu berarti sakit, dalam taraf tertentu stres bermanfaat untuk mengembangkan kepribadian. Stres adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari yang disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian atau adaptasi ( Dafis 1988). Stres adalah sebuah kondisi dimana sistim respon manusia berubah keseimbangannya (Lilis1997).

MEKANISME TUBUH MENGHADAPI STRES

Respon Stres :

Bila mendapatkan stresor tubuh manusia akan berusaha mengadakan perlawanan dengan mencari keseimbangan. Stres dapat memicu respon tubuh terhadap ancaman atau bahaya yang dirasakan, yang fight atau flight respon. Tubuh manusia merespon stres dengan mengaktifkan sistem saraf dan hormon tertent.

Hipotalamus memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan kortisol serta melepaskan mereka ke dalam aliran darah. These hormones speed up heart rate, breathing rate, blood pressure, and metabolism. Hormon-hormon ini mempercepat denyut jantung, laju pernafasan, tekanan darah, dan metabolisme. Blood vessels open wider to let more blood flow to large muscle groups, putting our muscles on alert. Pembuluh darah terbuka lebih lebar untuk membiarkan lebih banyak darah mengalir ke otot besar. Pupils dilate to improve vision. Pupil melebar untuk memperbaiki penglihatan. The liver releases some of its stored glucose to increase the body's energy. Glukosa yang sebagian disimpan dilepaskan untuk meningkatkan energi tubuh. And sweat is produced to cool the body. Kemudian keringat dihasilkan untuk mendinginkan tubuh.

All of these physical changes prepare a person to react quickly and effectively to handle the pressure of the moment.Awalnya kemampuan ini untuk kita secara fisik melawan bahaya. Ketika bahaya sudah hilang sistem dirancang kembali ke fungsi normal. Bila kita mengalami stres yang lama atau terus menerus maka tubuh akan mengalami banyak perubahan seperti meningkatnya tekanan darah dan peningkatan hormon stres yang terus menerus dapat mengakibatkan penekenan terhadap sistem kekebalan tubuh sehingga risiko terjadinya infeksi semakin meningkat.

Reaksi Adaptasi Terhadap Stres

Seberapa banyak, lama, dan berat keberadaan gejala-gejala stres menggambarkan pada tahap mana reaksi seseorang terhadap stres yang dialaminya.

Penolakan (denial) : menyangkal atau tidak percaya atau belum menerima bahwa ia mengetahui penyakit tersebut.

Marah: Marah kepada orang lain atau bahkan kepada Tuhan

Depresi : sedih, bersalah, merasa bahwa ia memang patut mengalami kondisi sakitnya sekarang. Sering juga individu mengkait-kaitkan penyakit yang dialami dengan perbuatannya di masa lalu.

Kecemasan: Merasa cemas dan tegang setelah mengetahui, menjadi berpikir dan mengantisipasi ke masa yang akan datang, bagaimana menghadapi hidup selanjutnya dengan kondisi yang sekarang dialami tersebut.

Tawar-menawar: Mulai dapat menerima, tetapi di saat yang sama juga masih sulit membayangkan harus mengalami kondisi yang berubah tersebut.

Menerima

Sudah dapat menerima keadaan yang berubah tersebut, sehingga dapat menjalani hidup dengan lebih nyaman.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB STRES

Secara umum, faktor penyebab stres meliputi:

1. Ancaman. Persepsi tentang adanya ancaman membuat seseorang merasa stres, baik ancaman fisik, sosial, finansial, maupun ancaman lainnya. Keadaan akan menjadi buruk bila orang yang mempersepsikan tentang adanya ancaman ini merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan tindakan apa pun yang akan bisa mengurangi ancaman tersebut.

2. Ketakutan. Ancaman bisa menimbulkan ketakutan. Ketakutan membuat orang membayangkan akan terjadinya akibat yang tidak menyenangkan, dan hal ini membuat orang menjadi stres.

3. Ketidak pastian. Saat kita merasa tidak yakin tentang sesuatu, maka kita akan sulit membuat prediksi. Akibatnya kita merasa tidak akan dapat mengendalikan situasi. Perasaan tidak mampu mengendalikan situasi akan menimbulkan ketakutan. Rasa takut menyebabkan kita merasa stres.

4. Disonansi kognitif. Bila ada kesenjangan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita pikirkan, maka dikatakan bahwa kita mengalami disonansi kognitif, dan hal ini akan dirasakan sebagai stres. Sebagai contoh, bila kita merasa bahwa kita adalah orang yang baik, namun ternyata menyakiti hati orang lain, maka kita akan mengalami disonansi dan merasa stres. Disonansi kognitif juga terjadi bila kita tidak dapat menjaga komitmen. Kita yakin bahwa diri kita jujur dan tepat janji, namun adakalanya situasi/lingkungan tidak mendukung kita untuk jujur atau tepat janji. Hal ini akan membuat kita merasa stres karena kita terancam dengan sebutan tidak jujur atau tidak mampu menepati janji.



Faktor lain yang bisa menimbulkan stres adalah kehidupan sehari-hari, seperti:

1. Kematian, baik kematian pasangan, keluarga, maupun teman
2. Kesehatan: kecelakaan, sakit, kehamilan
3. Kejahatan: penganiayaan seksual, perampokan, pencurian, pencopetan.
4. Penganiayaan diri: penyalahgunaan obat, alkoholisme, melukai diri sendiri
5. Perubahan keluarga: perpisahan, perceraian, kelahiran bayi, perkawinan.
6. Masalah seksual
7. Pertentangan pendapat: dengan pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, pimpinan
8. Perubahan fisik: kurang tidur, jadual kerja baru.
9. Tempat baru: berlibur, pindah rumah
10. Keuangan: kekurangan uang, memiliki uang, menginvestasikan uang.
11. Perubahan lingkungan: di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di kota, masuk penjara.
12. Peningkatan tanggung jawab: adanya tanggungan baru, pekerjaan baru

Beberapa situasi stres dapat ekstrim dan mungkin memerlukan perhatian khusus dan perawatan. Gangguan stres pasca trauma ( PTSD) adalah reaksi stres yang dapat berkembang pada orang-orang yang telah hidup melalui peristiwa yang sangat traumatis, seperti kecelakaan mobil yang serius, bencana alam seperti gempa bumi , atau serangan seperti pemerkosaan. Some people have anxiety problems that can cause them to overreact to stress, making even small difficulties seem like crises.


GEJALA-GEJALA STRES

Stres mempengaruhi seluruh diri kita. Kondisi stres dapat diamati dari gejala-gejalanya, baik gejala emosional/kognitif maupun gejala fisik. Jika kita dapat menandai gejala-gejalanya, maka kita akan dapat mengelolanya.

Seseorang yang stres tidak berarti harus memiliki/menampakkan seluruh gejala ini, bahkan satu gejala pun sudah bisa kita curigai sebagai pertanda bahwa seseorang mengalami stres. Namun kita juga perlu menyadari bahwa gejala-gejala ini bisa juga merupakan indikator dari masalah lain, misalnya karena memang benar ada gangguan kesehatan secara fisik.

Tabel berikut menggambarkan gejala-gejala stres:

Gejala Emosional/Kognitif Gejala Fisik / Psikosomatik
• Mudah merasa ingin marah
• Merasa putus asa saat harus menunggu sesuatu
• Merasa gelisah
• Tidak dapat berkonsentrasi
• Sulit berkonsentrasi
• Jadi mudah bingung
• Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat)
• Setiap saat memikirkan hal-hal negatif
• Berpikir negatif tentang diri sendiri
• Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah)
• Makan terlalu banyak
• Makan padahal tidak lapar
• Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu
• Merasa tidak mampu mengatasi masalah
• Sulit membuat keputusan
• Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebagai- nya)
• Biasanya merasa marah dan bosan
• Kurang memiliki sense of humor • Otot-otot tegang
• Sakit punggung bagian bawah
• Sakit di bahu atau leher
• Sakit dada
• Sakit perut
• Kram otot
• Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat dijelaskan kategorinya
• Denyut jantung cepat
• Telapak tangan berkeringat
• Berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik
• Perut terasa bergejolak
• Gangguan pencernaan dan cegukan
• Diare
• Tidak dapat tidur atau tidur berlebihan
• Napas pendek
• Menahan napas
TATALAKSANA

Manajemen atau penatalaksanaan stres pada tahap pencegahan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu yang mencakup fisik (somatik), psikologik/psikiatrik, psikososial dan religius. Di bidang pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan stres, maka sebaiknya ketahanan yang bersangkutan perlu ditingkatkan agar mampu menanggulangi stressor (penyebab) psikososial yang muncul. dan sebagainya.8

1. Secara fisik: kebutuhan dasar manusia dipenuhi mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi. Tidur dan istirahat yang cukup.Tidur adalah obat alamiah yang dapat memulihkan segala keletihan fisik dan mental. Rekreasi seperti menonton acara-acara hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, penyaluran kearah positif. Vitamin, imunisasi . Jaga kondisi supaya tidak sakit.8,9

2. Secara mental yang disadari, yang disebut sebagai direct coping, yaitu seseorang secara sadar melakukan upaya untuk mengatasi stres. Jadi pengelolaan stres dipusatkan pada masalah yang menimbulkan stres. Ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu:

a. Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda.8 Di dalam upaya-upaya yang dapat dilakukan sendiri termasuk upaya-upaya yang pada umumnya dapat dilakukan oleh individu tersebut sendiri, misalnya upaya-upaya dimana stres dihadapi secara awam hingga upaya-upaya yang sebetulnya bersifat psikoterapeutik. Di sini dimaksudkan antara lain memperbanyak stress coping skills. Tergantung dari kekuatan kepribadian serta pengalaman belajar dan aset yang dimiliki oleh individu tersebut dalam menghadapi stres. Contoh adalah stres yang mirip dengan yang pernah dialami sebelumnya dapat dihadapi dengan menggunakan strategi yang sebelumnya berhasil.9

b. Mengenal dan mengubah sumber stres, yang dapat dilakukan dengan tiga macam
pendekatan, yaitu: (a) bersikap asertif, yaitu berusaha mengetahui, menganalisis, dan mengubah sumber stres. Misalnya: bila ditegur pimpinan, maka respon yang ditampilkan bukan marah, melainkan menganalisis mengapa sampai ditegur; (b) menarik diri/menghindar dari sumber stres. Tindakan ini biasanya dilakukan bila sumber stres tidak dapat diatasi dengan baik. Namun cara ini sebaiknya tidak dipilih karena akan menghambat pengembangan diri. Kalaupun dipilih, lebih bersifat sementara, sebagai masa penangguhan sebelum mengambil keputusan pemecahan masalah, dan

c kompromi, yang bisa dilakukan dengan konformitas (mengikuti tuntutan sumber stres, pasrah) atau negosiasi (sampai batas tertentu menurunkan intensitas sumber stres dan meningkatkan toleransi terhadap stres

Dalam hal ini terdapat cara terapi yang tentunya perlu bimbingan terapis seperti terapi kognitif, assertiveness training, social skills training, teknik imagery, desensitisasi sistematik dan lain-lain.

Meditasi merupakan upaya mencari ketenangan dengan cara tertentu, yang dapat diajarkan sambil diawasi serta kemudian dapat dilakukan sendiri bila telah menguasai tekniknya. Ada yang mengatakan bahwa meditasi lebih cepat mengembalikan seseorang ke dalam ekuilibrium sesudah pengalaman stres 10

Hipnosis merupakan suatu alat terapi dalam dunia kedokteran,sehingga dikenal sebagai medical hypnosis. Ada hipnosis yang dibimbing oleh terapis dan ada pula yang dapat diajarkan untuk dilakukan sendiri, yang kita kenal sebagal auto-hypnosis. Didalam keadaan trance hipnosis seseorang dapat diberikan sugesti-sugesti.9

Terapi kognitif - perilaku yang berupaya melatih keterampilan pengatasan umum (general coping skills) dapat dipergunakan dalam kondisi stres yang tinggi serta adanya kegelisahan. Terapi terdiri dari 3 fase, yaitu fase pendidikan, membuat pasien menyadari permasalahannya dapat diatasi dengan memiliki keterampilan-keterampilan pengatasan yang tepat, berikutnya adalah fase latihan, dimana pasien diperkenalkan kepada dan dilatih penggunaannya berbagai respons pengatasan kognitif dan perilaku , dan terakhir adalah fase aplikasi, dimana pasien harus melatih diri untuk mempergunakan respons-respons tersebut dalam menghadapi situasi situasi stres secara bertahap. Terapi ini telah dipergunakan secara luas untuk mengatasi berbagai kondisi secara baik.

Psikoterapi dan konseling dapat diberikan untuk mengatasi kondisi stres. Konseling biasanya diberikan oleh awam yang berminat untuk itu, seperti guru-guru sekolah, ulama, pimpinan organisasi tertentu, dan lain-lain. Dalam konseling permasalahan dievaluasi dan diberikan pemecahan secara lebih direktif sifatnya, yang tentunya tergantung dari wibawa dan kharisma sang konselor. Untuk konseling sebaiknya konselor mengalami pelatihan sebelumnya agar ia terampil dalam teknik dan menguasai bidang di dalam mana konseling ditujukan. Psikoterapi diberikan selain oleh psikiater, juga oleh ahli psikologi,

Bila dengan semua ini belum berhasil perlu ditambah psikofarmaka seperti anti ansietas, anti depresi atau anti psikotik., tergantung dari gejala yang tampak.



SRUDI KASUS
1. Akan anda sebut apa jenis proses perubahan ini ? Jelaskan
2. Mengapa proses itu berhail ?
3. Ada konsekuensi negatif yang menurut anda bisa timbul dalam proses ini ?
4. Mengapa menurut anda CEO GE yang baru, Jeff Immelt, merevisi konsep Work-Out ?



JAWABAN :


1. Menurut kami jenis proses perubahan yang digunakan oleh General Electric adalah proses perubahan Work-Out. Proses perubahan ini merupakan proses perubahan yang melibatkan seluruh elemen dalam suatu organisasi. Proses perubahan ini di mulai dengan mempertemukan elemen-elemen organisasi dalam suatu forum diskusi. Forum deskusi tersebut membahas masalah-masalah yang telah diidentifikasi. Kemudian dibentuklah tim-tim kecil yang didorong untuk berpendapat menyusun rekomendasi untuk perbaikan dalam organisasi. Kemudian hasil diskusi tadi dipresentasikan kepada manajer senior. Presentasi tersebut diawasi oleh manajer penanggung jawab yang memutuskan diterima atau tidak rolomendasi tersebut.
2. Proses perubahan ini dapat berhasil karena perubahan didukung oleh semua elemen perusahaan GE.Perubahan tersebut yang membuat atau yang merekomendasikan elemen perusahaan GE.Elemen perusahaan diberi kebebasan untuk merancang suatu asumsi dan menyusun rekomendasi untuk perbaikan dalam proses-proses perusahaan,kemudian rekomendasi tersebut didiskusikan diterima atau tidak.Maka dengan elemen perusahaan tidak ada yang protes karena perubahan tersebut mereka yang membuat.
3. Menurut kami konsekuensi negatif yang akan timbul dalam proses ini adalah kemungkinan terjadinya konflik antar elemen organisasi.Konlik ini mungkin terjadi karena perbedaan pendapat pada saat diskusi,dimana mungkin terdapat pemaksaan pendapat yang dilakukan oleh elemen-elemen perusahaan.Konflik juga mungkin terjadi karena tidak disetujuinya keputusan rekomendasi dari para manajer senior.Penolakan rekomendasi ini mungkin karena rekomendasi dari karyawan memberatkan perusahaan atau mungkin sebaliknya
4. Menurut kami keputusan Jeff Immelt merevisi konsep work out didasari atas semakin majunya perkembangan teknologi dan sebagai perencanaan jangka panjang perusahaan.Jeff Immelt menginginkan semua manajer ahli dalam pemikiran strategis yang sebagian besar diserahkan kepada manajer senior.Dengan ini para manajer mampu menciptakan lini bisnis baru yang dapat bersaing dengan perusahaan lain seiring semakin majunya perkembangan teknologi.Sehingga perencanaan jangka panjang yang lebih inovatif juga dapat terwujud.















V. Kesimpulan

Dari makakalah ini dapat disimpulkan bahwa perubahan organisasi adalah upaya atau usaha merubah organisasi dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lain secara sistematis dan juga merupakan hal yang mesti terjadi di dalam sebuah organisasi. Maka, perlu manajemen pengelolaan perubahan organisasi yang yang berpedoman kepada perencaan dan aplikasi yang sistematis.
Di samping itu juga perlu evaluasi yang berkelajuta, dan yang terpenting adalah bagaimana komponen-komponen yang ada di dalamnya dapat berinteraksi dengan harmonis. Salah satu contoh kasus yang dapat dipelajari adalah “konflik” antara perubahan organisasi dengan privatisasi dan post-privatisasi.


1. Perlu adanya sosialisasi terhadap lapisan-lapisan masyarakat tentang cara melakukan perubahan organisasi yang efektif dan efisien.
2. Perlu adanya upaya oleh para organisatoris untuk melakukan aplikasi perubahan organisasi sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi











DATAR PUSTAKA

1. Hartono A, Budiwiyono I : Pengaruh Stres Akibat Cemas Ujian Semester terhadap Jumlah Leukosit Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Angkatan 2001, Media Medika Muda , Januari - Juni 2006

2. Maramis, W.F., 1980, Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga Univeristy Press, Surabaya.

3. Vivien : Stress, Indoskripsi.com , 2010

4. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan and Sadock's Synopsis of Psychiatry, Behavioral Sciences, Clinical Psychiatry. seventhed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1994: 1, 181-182,200, 575,753.

5. Scott .E : Stress How It Affects Your Body and How You Can Healthier , About com Guide, 4 Mei 2009

6. Koo.I : Sick of Stress or Sick from Stress? Stress Induced Infectious Diseases , About. Com. Guide, 17 Desember 2008

7. Jackson, SE dan Schuler, RS. 1997 Manajemen SDM Menghadapi Abad ke-21. Erlangga. Jakarta
8. Aharoni, Y. 1982. Stated-Owned Enterprise: An Agent Without a Principal. In Jones, L.P. (Ed). Public Enterprise in Less-Developed Countries: 67-76. Cambridge: Cambridge

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar